Entri Populer

Jumat, 11 Maret 2016

apa aku harus menulis seperti ini

APA AKU HARUS MENULIS SEPERTI INI
Lagi-lagi aku bingung sendiri. Menunggu bagian warisan istri, yang bisa kupinjam untuk modal usaha namun tak kunjung jua. Syukurlah disaat ayah tlah tiada tak satupun harta yang ayah ditinggalkan kecuali ketiga adikku itu.Namun ibuku yang kini janda masih harus berjuang meneruskan cita-cita sang suami untuk menikahkan kedua adikku yang masih lajang itu. Aku yang sudah mempunyai tiga orang putri dan jauh dari ibu masih terus berjuang sampai darah penghabisan tentunya diatas semua ihktiyar dan usaha itu. Namun ketahuilah, aku akan selalu hadir untuk kalian adikku aku pasti berada digaris depan untuk meneruskan cita-cita ayah dan ibu. doakan saja abang sukses dan banyak uang sehingga kelak jika keinginan kalian untuk menikah abang berjanji untuk membantu kalian. Kalian, kalianlah harta paling indah yang diwariskan ayah untukku, ibu.
Yang ini kalian juga harus tau. Zaman drastis berubah menjadi gila. Gila bagi mereka yang larut dalam irama teknologi dan gila pada mereka yang tak tau diri tak sopan sembrono tak tau malu mengumbar aurat bagi wanita membebaskan syahwat dijalan yang salah bagi kaum pria. Ini untuk kalian, adikku. Jangan humbar burungmu pada wanita yang mencintaimu. Cinta itu bukan hanya bermain dalam nada syahwat yang kalian punya. Cinta itu berada ditempat yang tinggi untuk derajatmu sebagai pria sejati yang mengerti artinya hidup harus saling memberi dan mencinta namun tak salah aturan. Atau bila tak sanggup kalian seperti yang tersebut, juga yang dikata para pecinta sastra islami. Katakan padaku, abang kalian. Wanita mana yang menyita jiwamu akan kuwakilkan peran ayah untuk meminang dan mengawinkannya untukmu. Satu pesanku jangan umbar burungmu.
Satu lembar ini harus selesai untuk kalian. kaliankan tau selain tapak dan rumah selama lebih dari 25 tahun lalu sampai sekarang ayah tak meninggalkan apapun pada kita. jangan ribut untuk urusan itu dan jangan kalian sesali. Yang perlu kalian tau berpura-puralah kalian tersenyum pada ibu seakan kalian tak pernah kehilangan ayah suaminya sehingga tak menjadi beban hidupnya sholat tak perlu ibu yang minta sudah kewajiban kita sebagai muslim. Mendoakan bagi mereka yang sudah tiada itu namanya sesama. Apalagi tak lepas tangan kita menjabat ketetapan illahi tentang makna sesungguhnya arti doa anak untuk ayah yang tlah tiada. kalian cari sendirilah perumpamaannya.
Yang pasti aku, Yah!. Ikhlas menerima ajal menjemputmu waktu itu. Kutanamkan ajjam untuk menjaga adikku agar engkau tetap tersenyum bersama kami selalu. Yah, kami semua sehat wal afiat tak kurang satu apapun begitu juga dengan istrimu yang kami tau rambutnya kini tlah beruban namun senyumnya masih sama seperti yang ayah lihat waktu gadis dulu. Begitu pula dengan ketiga cucumu dariku. Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Putri Sabrina Salsabila mereka akan menambah penyemangat ibu menjadi penawar sedingin hati ibu memastikan kalau ayah tak pernah sendiri. Amiin.

Iya bertanya, kenapa harus Helvy Tiana Rosa

IA BERTANYA, KENAPA HARUS HELVY TIANA ROSA
saat ia bertanya kenapa aku menamakan putriku Helvy Tiana Rosa, saat itu pula ia harus lekas sampai bandara menuju jakarta untuk kunjungan kerja tugas sebagai legislatif. Saat itu kalau kujelaskan kenapa! bisa jadi beliau harus membeli tiket kembali untuk keberangkatan.ia tak pernah memecatku walau sekali waktu ia harus membeli tiket kembali untuk keberangkatannya kali pertama yang lalu.Tak mungkin saat saat seperti ini saat itu sehingga hilang konsentrasiku melaju melesat sampai lampu merahpun harus kutebas agar ia tak boleh terlambat lagi menuju bandara waktu itu. Kadang bila dikenang aku sering tersenyum sendiri namun bila ia yang mengenang rasanya sudah berapa kerugian materi hanya gara garaku dari mulai mengganti Bamper depan mobil yang tercium gerbang rumahnya plus harus mengganti gerbang rumahnya kembali. Atau memerintahkan pegawai dikantor untuk menjemputku dikantor polisi untuk pelanggaran lampu merah, tak pakai sabuk pengaman sekaligus SIM A yang takku punya bukan itu saja banyak lagi. Kata orang ia pemarah, rewel, pelit dikit dikit. Tapi yang perlu kata orang itu tau ia tlah banyak membantuku dari mulai melunasi hutang kuliahku sampai wisuda sarjanaku begitu juga saat aku harus mencari tambahan uang untuk melangsungkan pernikahanku tentunya tidak itu saja. sederhananya ayah dari tiga putri dan satu putra bungsunya itu tak pernah marah dan rewel padaku.
Sampai saatnya tiba kusempatkan untuk menerangkan padanya kenapa aku menamakan putri pertamaku dengan nama Helvy Tiana Rosa.
Di gramedia kala itu, aku hanya sekali baca bukunya itupun harus menyobek plastik pembungkusnya. Yang kutahu nama penulisnya Helvy Tiana Rosa. "kertas koran pembungkus belanjaan untuk ibunya selalu ia simpan dan tak pernah dibuang ia banyak membaca dari kertas kertas pembungkus itu" dilembar lain aku lupa isinya namun buku yang barusan saja sobek plastik pembungkusnya kini telah lembab karena tetasan air mataku.Bukunya tak pernah kubeli namun setiap kali aku selesai membacanya kuselipkan buku itu diantara selipan yang tak mungkin orang lain menemukannya agar aku mudah untuk menemukan dan membacanya kembali. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika aku merepotkan dua orang pramuniaga untuk mencarikan buku itu kembali kali ini untuk kubeli seterusnya kuhadiahkan untuk sahabatku yang sedang berulang tahun. Maklumlah masih mahasiswa ketika itu. Seingatku setiap kali ada sahabat yang berulang tahun aku tak pernah repot mencarikan kado sebagai hadiah, ya buku yang penulisnya Helvy Tiana Rosa.
Bapak legislatif itu tau siapa Helvy Tiana Rosa. Maklumlah selain ikan koin berukuran besar dengan jumlah banyak yang ia punya ia juga mempunyai banyak buku diperpustakaan dirumahnya. jika ia belanja buku digramedia tidak sedikit uang yang dihabiskanya plus dengan satu buku yang kutitip agar ia yang membayarnya. Setelah kujelaskan ia bertanya kembali, sekiranya kelak kalau Helvy Tiana Rosa itu tau dengan nama yang sama engkau menamakan putrimu, bagaimana!, dengan wajah sastra kujawab aku tak ingin Helvy Tiana Rosa itu mati bang.