Entri Populer

Jumat, 11 Maret 2016

Iya bertanya, kenapa harus Helvy Tiana Rosa

IA BERTANYA, KENAPA HARUS HELVY TIANA ROSA
saat ia bertanya kenapa aku menamakan putriku Helvy Tiana Rosa, saat itu pula ia harus lekas sampai bandara menuju jakarta untuk kunjungan kerja tugas sebagai legislatif. Saat itu kalau kujelaskan kenapa! bisa jadi beliau harus membeli tiket kembali untuk keberangkatan.ia tak pernah memecatku walau sekali waktu ia harus membeli tiket kembali untuk keberangkatannya kali pertama yang lalu.Tak mungkin saat saat seperti ini saat itu sehingga hilang konsentrasiku melaju melesat sampai lampu merahpun harus kutebas agar ia tak boleh terlambat lagi menuju bandara waktu itu. Kadang bila dikenang aku sering tersenyum sendiri namun bila ia yang mengenang rasanya sudah berapa kerugian materi hanya gara garaku dari mulai mengganti Bamper depan mobil yang tercium gerbang rumahnya plus harus mengganti gerbang rumahnya kembali. Atau memerintahkan pegawai dikantor untuk menjemputku dikantor polisi untuk pelanggaran lampu merah, tak pakai sabuk pengaman sekaligus SIM A yang takku punya bukan itu saja banyak lagi. Kata orang ia pemarah, rewel, pelit dikit dikit. Tapi yang perlu kata orang itu tau ia tlah banyak membantuku dari mulai melunasi hutang kuliahku sampai wisuda sarjanaku begitu juga saat aku harus mencari tambahan uang untuk melangsungkan pernikahanku tentunya tidak itu saja. sederhananya ayah dari tiga putri dan satu putra bungsunya itu tak pernah marah dan rewel padaku.
Sampai saatnya tiba kusempatkan untuk menerangkan padanya kenapa aku menamakan putri pertamaku dengan nama Helvy Tiana Rosa.
Di gramedia kala itu, aku hanya sekali baca bukunya itupun harus menyobek plastik pembungkusnya. Yang kutahu nama penulisnya Helvy Tiana Rosa. "kertas koran pembungkus belanjaan untuk ibunya selalu ia simpan dan tak pernah dibuang ia banyak membaca dari kertas kertas pembungkus itu" dilembar lain aku lupa isinya namun buku yang barusan saja sobek plastik pembungkusnya kini telah lembab karena tetasan air mataku.Bukunya tak pernah kubeli namun setiap kali aku selesai membacanya kuselipkan buku itu diantara selipan yang tak mungkin orang lain menemukannya agar aku mudah untuk menemukan dan membacanya kembali. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika aku merepotkan dua orang pramuniaga untuk mencarikan buku itu kembali kali ini untuk kubeli seterusnya kuhadiahkan untuk sahabatku yang sedang berulang tahun. Maklumlah masih mahasiswa ketika itu. Seingatku setiap kali ada sahabat yang berulang tahun aku tak pernah repot mencarikan kado sebagai hadiah, ya buku yang penulisnya Helvy Tiana Rosa.
Bapak legislatif itu tau siapa Helvy Tiana Rosa. Maklumlah selain ikan koin berukuran besar dengan jumlah banyak yang ia punya ia juga mempunyai banyak buku diperpustakaan dirumahnya. jika ia belanja buku digramedia tidak sedikit uang yang dihabiskanya plus dengan satu buku yang kutitip agar ia yang membayarnya. Setelah kujelaskan ia bertanya kembali, sekiranya kelak kalau Helvy Tiana Rosa itu tau dengan nama yang sama engkau menamakan putrimu, bagaimana!, dengan wajah sastra kujawab aku tak ingin Helvy Tiana Rosa itu mati bang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar